Dinas Kesehatan
Kabupaten Tasikmalaya
Berita
Berita Terbaru Dinas Kesehatan
12 May 2026
Analisis Isu Publik Utama Kesehatan Periode 4-8 Mei 2026
Selama periode 4 hingga 8 Mei 2026, lanskap pemberitaan Kementerian Kesehatan secara umum didominasi oleh sentimen positif di media massa yang mencapai angka 88% pada akhir periode. Namun, di ranah media sosial, Kemenkes menghadapi tantangan serius dengan tingginya sentimen negatif yang mencapai 62,3%, terutama dipicu oleh kasus meninggalnya dokter internsip di Jambi. Isu ini memicu kritik sistemik dari publik yang menyoroti masalah beban kerja, kurangnya perlindungan bagi peserta internsip, dan proses skrining kesehatan. Sebagai respons, Kemenkes bergerak cepat dengan melakukan investigasi menyeluruh ke RSUD KH Daud Arif, membuka kemungkinan sanksi tegas jika terbukti ada kelalaian, dan ditutup dengan konferensi pers langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk menjaga stabilitas narasi dan menjanjikan perbaikan sistem.Selain manajemen krisis, Kemenkes juga berfokus pada kewaspadaan terhadap ancaman Hantavirus setelah temuan kluster dari WHO di sebuah kapal pesiar. Meskipun penyakit zoonosis dari tikus ini memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi, Kemenkes mengedukasi masyarakat bahwa virus ini tidak berpotensi memicu pandemi, sehingga komunikasi diarahkan pada pencegahan dan pengendalian hama tanpa memicu kepanikan. Di sisi lain, program-program strategis pemerintah terus mendulang sentimen positif, seperti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mendorong paradigma deteksi dini, penerapan label gizi “Nutri Level” untuk transparansi minuman olahan, kampanye Pekan Imunisasi Dunia 2026 yang menyasar kelompok anak zero-dose, hingga dukungan terhadap sertifikasi inklusif RS Syariah yang dinilai sesuai dengan nilai keagamaan. Sumber : https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/analisis-isu-publik-utama-kesehatan-periode-4-8-mei-2026/
Lihat Selengkapnya
08 May 2026
Hantavirus: Virus dari Tikus yang Mematikan, Siapkah Indonesia Menghadapinya?
Penulis: KD Puspa, FD Hanifah, DF Mogsa, M Karyana (Adminkes Tim Kerja Kebijakan dan Strategi Penanggulangan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan, Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan BKPK Kemenkes)Di tengah hiruk-pikuk perhatian publik terhadap pandemi dan penyakit populer seperti dengue atau COVID-19, ada satu ancaman kesehatan yang nyaris tak terdengar, namun berpotensi mematikan yaitu hantavirus.Ia tidak menyebar dari manusia ke manusia seperti influenza. Ia tidak menimbulkan wabah besar yang langsung mencuri perhatian media. Tetapi justru karena itu, hantavirus menjadi lebih berbahaya, silent threat yang bergerak perlahan di balik bayangan lingkungan kita sendiri. Dan yang lebih mengkhawatirkan: Indonesia bukanlah wilayah bebas hantavirus.Ancaman yang Tidak Terlihat: Hantavirus di Indonesia Bukan Cerita BaruBanyak orang mengira hantavirus adalah penyakit langka dari luar negeri. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa virus ini telah lama ada di Indonesia, bahkan sejak tahun 1980-an. Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6%. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis.Lebih jauh lagi, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0–34%. Ini menunjukkan bahwa virus tersebut beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.Mengapa Hantavirus Sering “Tidak Terlihat”?Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam lebih sering langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik: demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali.Fenomena ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara kasus sebenarnya jauh lebih besar di bawah permukaan.Virus dari Tikus: Cara Penularan yang Sering DiabaikanHantavirus bukan ditularkan oleh nyamuk, bukan pula melalui makanan secara langsung. Ia menyebar melalui sesuatu yang sering kita anggap sepele melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus.Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi. Dalam pedoman nasional disebutkan bahwa penularan terutama terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia. Dengan kata lain, seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan dengan manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi.Dua Wajah Mematikan: HFRS dan HPSHantavirus tidak hanya satu jenis penyakit. Ia memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Banyak terjadi di Asia dan Eropa, menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, gagal ginjal Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Lebih sering ditemukan di Amerika, menyerang paru-paru dengan gejala sesak napas akut dan gagal napas. Case fatality rate (CFR) hantavirus bisa sangat tinggi, bahkan mencapai hingga 50% pada beberapa tipe virus.Di Indonesia sendiri, virus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang menyebar melalui tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus). Karena tikus jenis ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar.Kota Besar, Risiko BesarPenelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil, tetapi juga di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Denpasar. Bahkan dalam satu studi, kasus ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit di beberapa kota besar.Hal ini menunjukkan satu hal penting: urbanisasi dan kepadatan penduduk justru meningkatkan risiko hantavirus. Lingkungan perkotaan dengan sanitasi buruk, permukiman padat, dan pengelolaan sampah yang tidak optimal menjadi habitat ideal bagi tikus.Ancaman yang Semakin Nyata: Dinamika Global TerbaruDalam beberapa tahun terakhir, dunia mulai kembali menyoroti hantavirus. Beberapa laporan global menunjukkan terjadi peningkatan kasus di Asia Timur dan Eropa, outbreak sporadis di Amerika Serikat, serta adanya keterkaitan dengan perubahan iklim dan urbanisasi Perubahan iklim memengaruhi populasi rodensia, meningkatkan reproduksi dan memperluas habitat mereka. Sementara itu, urbanisasi memperbesar kontak antara manusia dan reservoir virus.Indonesia berada pada persimpangan dua faktor risiko ini: iklim tropis dan kepadatan penduduk tinggi. Artinya, risiko hantavirus bukan menurun, tetapi justru berpotensi meningkat.Mengapa Kita Harus Khawatir?Ada tiga alasan utama mengapa hantavirus perlu menjadi perhatian serius dalam kebijakan kesehatan nasional. Kesatu, underdiagnosed dan underrated. Banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain. Kedua, reservoir melimpah. Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang terkonfirmasi membawa virus. Ketiga, Potensi Fatal Tinggi. CFR dapat mencapai puluhan persen pada kasus berat.Dengan kombinasi ini, hantavirus bukan sekadar penyakit langka, melainkan ancaman laten yang sistematis.Pelajaran Penting: Hantavirus adalah Masalah Lingkungan, Bukan Sekadar PenyakitBerbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hantavirus tidak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin (yang hingga kini belum ada yang disetujui secara luas).Pengendalian hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi Masyarakat, surveilans berbasis Risiko. Dalam pedoman Kemenkes, pendekatan yang dianjurkan mencakup pengendalian reservoir secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan dan komunikasi risiko kepada Masyarakat. Ini menunjukkan bahwa hantavirus adalah contoh nyata pendekatan One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.Apa yang Harus Dilakukan oleh Kita?Melihat kompleksitas ancaman hantavirus, respons kebijakan tidak bisa parsial. Dibutuhkan pendekatan sistemik. Pertama, integrasi surveilans. Hantavirus perlu masuk dalam sistem surveilans sindromik (demam akut tidak terdiagnosis), bukan hanya surveilans penyakit spesifik. Kedua, penguatan diagnosis. Pemeriksaan serologi dan PCR harus diperluas, terutama di rumah sakit rujukan. Ketiga, pengendalian rodensia berbasis komunitas. Program pengendalian tikus harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan lingkungan.Keempat, edukasi public. Masyarakat perlu memahami bahwa: menyapu rumah yang penuh debu tikus tanpa perlindungan bisa menjadi risiko infeksi. Kelima, integrasi dengan program eksisting. Pendekatan ini dapat disinergikan dengan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), program kesehatan lingkungan serta pengendalian zoonosis Kesimpulan: Ancaman yang Tidak Boleh Lagi DiabaikanHantavirus bukan penyakit baru. Ia sudah lama ada, hanya saja selama ini tersembunyi di balik bayangan penyakit lain. Dengan bukti ilmiah yang semakin kuat, jelas bahwa virus ini sudah beredar di Indonesia, reservoirnya melimpah, diagnosisnya masih terbatas dan dampaknya bisa fatal.Pertanyaannya bukan lagi: apakah hantavirus ada di Indonesia? Tetapi, seberapa besar kita belum melihatnya?Jika Indonesia tidak mulai memperkuat surveilans, diagnosis, dan pengendalian berbasis lingkungan, maka hantavirus berpotensi menjadi “kejutan epidemiologis” berikutnya, datang tanpa disadari, tetapi berdampak besar.PenutupDi era pasca pandemi, dunia belajar satu hal penting adalah ancaman kesehatan tidak selalu datang dari yang terlihat besar, tetapi justru dari yang diabaikan. Hantavirus adalah salah satunya. Dan seperti banyak ancaman kesehatan lain, ia memberi kita pilihan: bertindak sekarang atau menunggu sampai terlambat.Sumber :https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hantavirus-virus-dari-tikus-yang-mematikan-siapkah-indonesia-menghadapinya/
Lihat Selengkapnya
05 May 2026
Analisis Isu Publik Kesehatan Periode 27–30 April 2026
Pemantauan terhadap 6 isu kesehatan prioritas mengungkap transisi paradigma mendasar dalam pendekatan kebijakan kesehatan nasional—dari orientasi kuratif menuju preventif-promotif. Program MBG dengan standardisasi higienitas (14.646 sertifikat SLHS), Optimalisasi 1.000 HPK melalui Konsorsium baru, hingga literasi kesehatan mental di dunia kerja dan sekolah, semuanya menunjukkan bahwa Kemenkes kini menempatkan intervensi hulu dan integrasi data lintas-sektor sebagai strategi utama. Eliminasi TBC di wilayah beban tinggi (Papua) dan penajaman pedoman katarak untuk usia produktif juga mencerminkan upaya sistematis memutus rantai masalah kesehatan sebelum menjadi beban ekonomi nasional (mitigasi kerugian Rp3,1 triliun akibat keracunan pangan, ancaman produktivitas dari 650 ribu kasus kebutaan, proyeksi peningkatan HALE dari 74 ke 84 tahun). Namun, terdapat kesenjangan kritis antara narasi kebijakan pusat dan realitas implementasi di daerah yang berpotensi menggerus kepercayaan publik. Penundaan insentif tenaga kesehatan, kasus dugaan malapraktik di RSUP M. Djamil, dan lemahnya koordinasi vertikal dalam akselerasi program TBC menjadi pemicu sentimen negatif yang tidak tertangkap oleh liputan media massa konvensional. Kondisi ini menciptakan paradoks reputasi: sentimen positif di media massa mencapai 84-93%, tetapi media sosial menunjukkan sentimen negatif hingga 41,3% pada periode tertentu. Ancaman reputasi terbesar kini bersumber dari dua faktor: (1) kegagalan operasional di tingkat layanan yang cepat viral di media sosial, dan (2) kerentanan terkait perlindungan data pribadi. Untuk itu, Kemenkes perlu segera membangun sistem komunikasi responsif berbasis early warning yang mampu memonitor kesenjangan sentimen media massa vs media sosial secara real-time, dilengkapi protokol tanggap cepat untuk isu operasional sebelum berkembang menjadi krisis kepercayaan. Transparansi penggunaan data dan sinkronisasi narasi pusat-daerah menjadi prasyarat mempertahankan legitimasi program kesehatan di era digital. Sumber : https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/analisis-isu-publik-kesehatan-periode-27-30-april-2026/
Lihat Selengkapnya
28 Apr 2026
Analisis Isu Publik Kesehatan Periode 20-24 April 2026
Analisis isu publik kesehatan periode 20-24 April 2026 menunjukkan dominasi sentimen positif (86-90%) di media massa, yang didorong oleh narasi kebijakan preventif dan respons cepat Kemenkes terhadap isu aktual. Namun, terdapat diskrepansi antara narasi kebijakan di media massa dengan sentimen di media sosial (mencapai 34,1% negatif) yang dipicu oleh isu berbasis kasus (case-based) seperti kualitas layanan RS dan kesejahteraan tenaga kesehatan. Strategi komunikasi ke depan harus bertransformasi dari sekadar diseminasi informasi menjadi mitigasi krisis berbasis empati dan penguatan data teknis untuk menjaga reputasi institusi. Sumber : https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/analisis-isu-publik-kesehatan-periode-20-24-april-2026/
Lihat Selengkapnya
22 Apr 2026
Analisa Isu Publik Kesehatan Periode 13-17 April 2026
Kemenkes menetapkan aturan label gizi nutri-level (KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026) pada pangan siap saji untuk menekan konsumsi gula, garam, dan lemak. Meski dianggap langkah edukatif yang positif, muncul spekulasi negatif bahwa kebijakan ini merupakan upaya menteri membangun citra demi menghindari reshuffle. Kasus bayi tertukar di RSHS Bandung yang dipicu somasi Nina Saleha menjadi sumber utama sentimen negatif karena sensitivitas emosionalnya di media sosial. Walaupun masalah telah diselesaikan secara kekeluargaan dan dilaporkan ke Kemenkes, insiden ini sempat memicu risiko krisis kepercayaan publik terhadap sistem rumah sakit. Terkait akses BPJS Kesehatan, Menteri Kesehatan menyoroti anomali data PBI pasca-desentralisasi oleh BPS yang menyebabkan bantuan tidak tepat sasaran. Kritik dari DPR mengenai implementasi pelayanan di lapangan terus berulang, menunjukkan adanya kesenjangan yang memengaruhi persepsi publik terhadap kehadiran negara. Kinerja Kemenkes mendapat apresiasi tinggi dengan menempati peringkat kedua kementerian terbaik versi survei Cyrus Network dengan skor 86,8%. Tingkat kepuasan publik terhadap menteri yang mencapai 70% ini menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas sentimen positif di media massa. Pemerintah berhasil memitigasi 58 KLB campak melalui penyediaan 9,8 juta dosis vaksin MR dan izin vaksin untuk dewasa oleh BPOM. Strategi penanganan ini sangat efektif, terbukti dengan penurunan kasus secara drastis sebesar 93% hanya dalam waktu sekitar dua bulan di awal tahun 2026. Upaya eliminasi Tuberkulosis (TB) diperkuat melalui kunjungan Wamenkes ke Lampung guna mendorong deteksi dini yang agresif di lingkungan keluarga pasien. Kegiatan visitasi dan sosialisasi ini tidak hanya bertujuan menurunkan angka kasus yang tinggi, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan sentimen positif Kemenkes. Sumber : https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/analisa-isu-publik-kesehatan-periode-13-17-april-2026/
Lihat Selengkapnya
15 Apr 2026
SINERGI GERMAS DAN MANASIK FISIK JEMAAH HAJI
Penulis: Dr. Syahrul Aminullah,.SKM,. M.Si. (Analis Kebijakan Ahli Madya, BKPK Kemenkes RI)Ibadah haji sering kali dimaknai sebagai puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Namun, di balik kekhusyukan doa di depan Baitullah atau keheningan wukuf di Arafah, terselip sebuah kenyataan fisik yang tak terelakkan.Ibadah haji adalah terkandung ibadah fisik (al-ibadah al-badaniyah). Tanpa persiapan raga yang prima, kekhusyukan bisa dengan mudah tergerus oleh rasa lelah yang luar biasa. Di sinilah letak urgensi menyinergikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan persiapan manasik fisik jemaah.Menakar “Maraton” Spiritual di Tanah SuciStatistik perjalanan fisik selama fase puncak haji sesungguhnya menyerupai lari maraton yang dilakukan selama berhari-hari. Berdasarkan simulasi jarak, seorang jemaah haji setidaknya harus menempuh jarak kumulatif minimal 33,65 kilometer. Angka ini merupakan akumulasi dari pilar-pilar utama ibadah yang meliputi Thawaf, ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran menempuh jarak sekitar 3,5 kilometer, tergantung pada kepadatan dan radius putaran.Sa’i, ritual berjalan dan berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali mencakup jarak sekitar 3,15 kilometer.Lempar Jumrah ibadah fase terberat. Perjalanan dari tenda di Mina menuju Jamarat pulang-pergi selama tiga hingga empat hari bisa mencapai total 27 kilometer. Angka-angka tersebut hanyalah estimasi moderat. Tergantung pada letak penginapan (maktab) dan kondisi arus lalu lintas manusia. Beberapa sumber mencatat jemaah bisa berjalan hingga 63 kilometer. Bagi masyarakat urban yang terbiasa dengan gaya hidup sedenter, dengan lebih banyak duduk di depan layer komputer, jarak ini adalah tantangan fisik yang nyata.Mandat Negara Membudayakan Aktivitas FisikKesadaran akan pentingnya ketahanan fisik ini bukan lagi sekadar urusan personal jemaah, melainkan telah menjadi perhatian serius negara. Sebagai upaya preventif menjaga kesehatan masyarakat, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Surat Edaran No. PR.01.01/A/2952/2025 tanggal 27 Juli 2025.Surat yang ditujukan kepada Dinas Kesehatan Provinsi/Kab/Kota di seluruh Indonesia tersebut menginstruksikan penguatan budaya Germas dengan indikator penduduk dengan aktifitas fisik cukup terbingkai pada Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK) 2025-2029 dalam RPJMD. Intinya adalah ajakan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik yang cukup sebagai fondasi kesehatan bangsa. Dalam konteks haji, kebijakan ini menjadi payung hukum bagi “manasik fisik”. Berjalan kaki harus menjadi budaya harian, bukan sekadar latihan dadakan menjelang keberangkatan. Sinergi antara instruksi Germas dan persiapan haji memastikan jemaah berangkat dalam kondisi “siap tempur” secara fisiologis.Menjemput Kesempurnaan Melalui Langkah KakiMengapa latihan jalan kaki di tanah air menjadi “jalan penyempurnaan”? Jawabannya terletak pada manajemen energi. Ketika fisik sudah terlatih melalui kebiasaan Germas, jemaah tidak lagi disibukkan oleh keluhan otot kaki yang kram atau napas yang tersengal-sengal di tengah prosesi ibadah. Dengan raga yang tangguh, fokus pikiran dapat sepenuhnya dicurahkan pada zikir dan perenungan.Berlatih jalan kaki di tanah air minimal 3-6 bulan sebelum keberangkatan adalah bentuk ikhtiar memenuhi perintah agama untuk mempersiapkan bekal terbaik. Bekal bukan hanya soal materi, tapi juga kekuatan fisik untuk melaksanakan rukun haji secara mandiri tanpa membebani orang lain atau petugas lapangan yang sudah memikul tanggung jawab besar.Strategi “Manasik Fisik” di Tanah AirPersiapan ini harus dilakukan secara terukur. Jemaah disarankan mulai rutin berjalan kaki di pagi hari, minimal 30 menit setiap hari, dan secara bertahap meningkatkan jaraknya hingga menyerupai simulasi jarak di Mina. Menggunakan sepatu yang akan dibawa ke Tanah Suci saat berlatih juga sangat disarankan untuk menghindari lecet akibat proses adaptasi alat kaki yang baru.Selain itu, perlu diingat bahwa suhu di Arab Saudi jauh lebih ekstrem. Latihan fisik di tanah air juga harus dibarengi dengan kebiasaan manajemen hidrasi yang baik, sesuai dengan prinsip Germas untuk menjaga asupan nutrisi dan cairan tubuh guna mencegah dehidrasi panas (heat stroke).Ketika Raga kita menjadi terlatih dan Kuat, nawaitu menjadikan Ibadah haji yang Mabrur. Dimana ritual ibadah haji adalah undangan Tuhan yang menuntut totalitas. Menyiapkan kaki untuk menapaki jalan-jalan di Mekkah dan Mina adalah bentuk penghormatan kita terhadap undangan tersebut. Kebijakan pemerintah melalui RIBK 2025-2029 menjadi penguat bahwa ketahanan fisik adalah pondasi bagi kelancaran ibadah.Jangan biarkan perjalanan suci ini terganggu oleh ketidaksiapan fisik yang sebenarnya bisa diantisipasi. Mari jadikan setiap langkah kaki kita di trotoar Indonesia sebagai investasi spiritual untuk menyempurnakan ibadah. Sinergi antara kedisiplinan diri dalam beraktivitas fisik dan ketaatan pada panduan kesehatan pemerintah adalah langkah awal yang nyata menuju haji yang mabrur.Sumber :https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/sinergi-germas-dan-manasik-fisik-jemaah-haji/
Lihat Selengkapnya
04 Mar 2026
Analisa Isu Publik Kesehatan periode 23-27 Februari 2026
Isu publik kesehatan periode 23-27 Februari 2026 ditandai dengan berbagai dinamika. Satu sisi, pemerintah menunjukkan capaian masif dalam program preventif (70 juta Cek Kesehatan Gratis) dan edukasi gizi. Namun di sisi lain, otoritas kesehatan menghadapi tantangan serius berupa krisis kepercayaan akibat pemberhentian tokoh medis senior (dr. Piprim), ancaman finansial publik (wacana iuran BPJS), serta insiden operasional pada program unggulan pemerintah (keracunan Makan Bergizi Gratis/MBG). Penanganan isu Campak menjadi indikator krusial efektivitas sistem imunisasi nasional saat ini. Sumber : https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/analisa-isu-publik-kesehatan-periode-23-27-februari-2026/
Lihat Selengkapnya
02 Feb 2026
Hari Kanker Sedunia 2026: Bersama Kita Bisa Lawan Kanker
Pada 4 Februari 2000, perwakilan negara, organisasi kesehatan, dan komunitas ilmiah dunia berkumpul di Paris dalam Konferensi Tingkat Tinggi Kanker Dunia untuk Milenium Baru yang dipimpin oleh Union for International Cancer Control (UICC). Sumber : https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/hari-kanker-sedunia-2026-bersama-kita-bisa-lawan-kanker?track_source=kompaspedia-paywall&track_medium=login-paywall&track_content=https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/hari-kanker-sedunia-2026-bersama-kita-bisa-lawan-kanker
Lihat Selengkapnya